PertemuanNabi Musa dengan Nabi Khidir. Mengenal lebih jauh tentang profil Nabi Khidir AS akan memakan banyak waktu dan riwayat yang bersumber dari literasi Islam. Kepastian tentang sosok Khidir AS yakni beliau merupakan Hamba Allah yang diberi Ilmu lebih oleh Allah SWT. Kisah Gus Dur Nyantri di Tegalrejo, Dari Kolam Ikan hingga Masjid vs KisahGus Dur bertemu dengan Nabi Khidir As dengan Kyai As'ad Syamsul Arifin.#gusdur #NabiKhidir #nabimuhammad #gusmuwafiq #gusmiftah #gusbaha #gusbaha #gus 55K views, 500 likes, 45 loves, 1 comments, 79 shares, Facebook Watch Videos from Penuntut Ilmu: Kisah Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir عليه ٱلسلام_ Ustadz Khalid Basalamah Vay Tiền Nhanh Ggads. Nabi Khidir لخضر, Khadr, Khadr merupakan salah satu Nabi yang diyakini masih hidup hingga saat ini. Namun, keberadaannya selalu misterius. Hanya beberapa orang saja yang pernah bertemu dan mendapat pelajaran dari Nabi Khidir, seperti cerita populer tentang perjumpaannya dengan Nabi tentang asal usul Nabi Khidir banyak versinya. Ada yang menyebutkan Nabi Khidir putra Nabi Adam AS yang diciptakan dari tulang iganya. Ada juga yang mengatakan dia cucu Nabi Harun AS. Menurut jumhur ulama, Nabi Khidir masih hidup dan tidak akan meninggal hingga kiamat tiba, namun tak berarti Nabi Khidir kekal lantaran dia tetap meninggal dunia sehingga tak bersambung dalam masa kehidupan dunia dan dari buku Ma'ariful Auliya 82 Kisah Hikmah dari 60 Kekasih Allah karya Muhammad Khalid Tabits, selain Nabi Musa berikut deretan orang-orang yang pernah bersua dengan Nabi Ali Zainul AbidinNabi Khidir selalu datang kepada Ali Zainul Abidin, cucu Nabi Muhammad SAW. Abu Hamzah al-Tsamali meriwayatkannya, sebagaimana dilansir oleh Abu Nuaim dalam kitab Hilyat al-Auliya. Dalam riwayat tersebut Abu Hamzah berceritaAli Zainul Abidin sempat bertemu Nabi Khidir, ketika dia sedang bersedih. Ali merasa takut karena hidup di dunia dan entah apa yang terjadi ketika sudah di akhirat pun tiba-tida didatangi oleh seorang pria tampan berpakaian rapi dan indah. Lalu pria itu bertanya pada Ali, mengapa dia bersedih? "Wahai Ali ibn al-Hasan, mengapa kau terlihat sedih dan tertekan? Apakah karena dunia? Ia adalah rezeki yang ada. Dimakan oleh orang baik dan orang jahat'"Aku Menjawab, "Bukan karena dunia aku bersedih, karena dunia seperti yang kau takutkan,""Apakah karena akhirat? Ia adalah jani yang pasti. Urusan di dalamnya ditetapkan oleh Raja Yang Maha Kuasa?" tanya nya lagi."Bukan karena itu aku bersedih, karena akhirat seperti yang engkau sampaikan," jawabku. Saat itu Ali tajut sekali akan fitnah yang berasal dari Ibnu al-Zubair. Kemudian pria itu menegaskan akan kuasa Allah yang selalu melindungi dan mengabulkan setiap permintaan pria itu pergi dan menghilang. Lalu ada yang memberi tahu Ali, bahwa pria yang menyambanginya tadi adalah Nabi Muhriz ibn KhalafMuhriz ibn Khalaf adalah seorang sastrawan. Syekh Muhriz ibn Khalaf bertemu dengan Nabi Khidir, sebagaimana diriwayatkan oleh banyak orang, salah satunya oleh Abu al-Thahir al-Farisi dengan sanad dari al-Dasturi al-Qathan al-Abid. Al-Qathan menceritakanKetika Al-Qathan sedang mencari sejumlah buku di Tunis, kemudian ia datang ke masjid. Di sana ia bertemu dengan saudara sastrawan, yaitu Muhriz ibn Khalaf. Dia pun menanyakan keberadaan seorang sastrawan tersebut. Lalu ada yang mengatakan bahwa dia sastrawan ada di sebuah masjid, dan sedang berbicara bersama seorang pria tidak pun segera menyalakan lampu, lalu menghampiri Syekh Muhriz untuk mencari tahu siapa sebenarnya pria yang sedang bersamanya itu. Anehnya ketika dia mendekati masjid, tiba-tiba lampu padam. Lalu menyalakan lagi hingga tiga sang sastrawan pun mengatakan pada Al-Qathan, jika pria tadi yang bersama Muhriz sudah keluar. Qathan pun bertanya pada Muhriz, dan bila tidak memberitahunya maka dia akan menyebarkannya. Muhriz pun akhirnya mengatakan, "itu adalah Abu al-Abbas al-Khadir."3. Syekh Ibrahim al-KhawashSebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi sepulang dari sebuah perjalanannya, Syekh Ibrahim al-Khawash pernah ditanya, "apa yang engkau alami selama perjalanan?". Kemudian dia Syekh Ibrahim al-Khawash menjawab, bahwasannya dia sempat terjatuh karena tiba-tiba datang seorang pria tampan berbaju bagus, menunggangi kuda dan memberikannya air. Hingga akhirnya Syekh Ibrahim al-Khawash tidak mearasa kehausan lagi. Setelahnya, pria itu menawarinya naik ke atas kuda. Tanpa disadari, dia sudah ada di sebuah di dataran itu bertanya,"apa yang kau lihat?" dia menjawab "Kota Madinah" Pria itu meminta Syekh Ibrahim al-Khawash untuk turun dan berkata "Turunlah dan sampaikan salam dariku untuk Rasulullah SAW. Ucapkan olehmu, saudaramu Khadir menyampaikan salam kepadamu,"4. Imam Ahmad ibn HanbalImam Ahmad ibn Hanbal juga salah seorang yang pernah ditemui oleh Nabi Khidir. Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Ya'la dalam Thabaqat al-Hanabilah dari Abu al Thayyib dari Abu al-Qasim al Baghawi. Dalam kisah Abu Al-Qasim al Baghawi menuturkan bahwa Imam Ahmad Habal bercerita kepada hari Abu Al-Qasim al Baghawi sedang mengantar seseorang yang akan berhaji hingga ke wilayah al-Qadisiyyah. Dari situlah dia memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji. Namun sayang, dia mempertimbangkan karena keadaannya. Saat itu dia hanya memiliki bekal lima dirham ada seorang pria menghampirinya dan berkata "Wahai Abu Abdullah, nama besar dan niat yang lemah telah menghalangimu untuk berhaji," Lalu Abu Al-Qasim menjawab, "Iya, demikian adanya.""Apakah kau ingin menemaniku?" kata pria itu. lalu Abu Al-Qasim menjawab, "Mau,". Kemudian dia ikut bersama pria itu, menjauh dari rombongan. Ketika waktu istirahat tiba, yaitu antara isya dan sahur mereka pun singgah di suatu tempat. Pria ini menawarinya sebuah makanan, tentunya Abu Al-Qasim tidak itu memintanya untuk bangun, dan diperlihatkan makanan lezat seperti roti, sayuran dan daging yang siap disantap. Sedangkan pria itu tidak ikut makan. Setelah beberapa lama singgah di tempat lainnya, tiba-tiba pria itu al-Thayyib bertanya kepada Abu Al-Qasim al Baghawi, "Apakah engaku mengetahui pria tersebut?" al Baghawi menjawab. "Aku mengira ia adalah Khidir Bisyr al-HafiKetika Bisyr memasuki rumahnya, tiba-tiba di dalam ada seorang pria bertubuh tinggi sedang salat. Setelah dia melihatnya, lalu orang itu memberi salam dan langsung berkata "Aku adalah Khidir," Kemudian Bisyr pun berkata, "Ajarilah sesuatu yang bermanfaat untukku,"Pria itu menjawab, "Ucapkanlah Aku memohon ampun kepada Allah dari setiap perjanjian yang aku langgar dan dari setiap nikmat yang aku pergunakan untuk bermaksiat kepada-Nya,". Kemudian ada kejadian lainnya, dia meminta Nabi Khidir mendoakannya, "Semoga Allah menutupi ketaatan itu untukmu," kata Syekh Zakariya al-AnshariSyekh Zakariya al-Anshéri bercerita Pada suatu waktu, saudaraku Syekh Ali aI-Nabtaini bcrkumpul dengan Nabi Khidir. Syekh Ali al-Nabtaini itu bertanya kepadanya. “Apa yang kau katakan tentang Syekh Yahyé aLManaM?”Nabi Khidhir menjawab, “Tidak ada masalah.”Syekh Ali al-Nabtaini itu bertanya lagi, “Bagaimana dengan iman?”“Tidak ada masalah’“Bagaimana dengan Syekh Zakariya?”“Tidak ada masalah. Hanya saja ia berjiwa kecil.”Syekh Zakariya melanjutkan, “Ketika Syekh Ali al-Nabta’mi mengirim utusan dan menyampaikan kabar itu kepadaku, hatiku seakan sempit. Aku tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Nabi Khidir dengan jiwa kecil’.Aku kemudian mengirim utusan untuk meminta penjelasan soal ungkapan itu. Setelah ditanyakan, Nabi Khidhir menjawab, jika mengutus seseorang untuk utusan sesuatu, ia Syekh Zakariya selalu mengatakan, Syekh Zakariya berkata kepadamu.’ Artinya, ia menyebut dirinya sendiri sebagai syaikh” Oleh Fathoni Ahmad Qasidah Al-Burdah disusun oleh seorang pujangga tersohor, Imam Syafaruddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri 610-695H/1213-1296 M. Al-Bushiri adalah keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Dia murid seorang Sufi Besar, Imam Abu Hasan As-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas Al-Mursi, anggota Tarekat Syadziliyah. Di bidang ilmu fiqih, Al-Bushiri menganut madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab fiqih mayoritas di Mesir. Qasidah Burdah adalah salah satu karya termasyhur dalam khzanah sastra Islam. Isinya sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga kini, Qasidah Burdah yang merupakan salah satu karya monumental dalam bidang Sastra Arab masih sering dilantunkan di sejumlah pesantren salaf dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad. Kitab ini juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahas Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Cendekiawan Muslim, KH Abdurrahman Wahid Gus Dur dikenal getol mengkaji Sastra Arab. Hal ini ditunjukkan ketika belajar di Mesir, ia banyak melahap sejumlah karya sastra karangan para ulama klasik. Begitu juga ketika ia melakukan pengembaraan ilmu di Baghdad, karya sastra melimpah di kota 1001 malam ini semakin menggiatkan Gus Dur akan kecintaannya pada karya sastra dalam lintas sejarah peradaban Islam. Di antara karya sastra monumental yang sering dinikmati Gus Dur adalah Qasidah Burdah karya Al-Bushiri sehingga kerap disebut Burdah Al-Bushiri. Rangkaian bait yang disukai Gus Dur dalam Qasidah Burdah di antaranya “Ya rabbi bil musthafa balligh maqashidana waghfirlana maa madha ya waasi’ah karami” Ya Tuhanku, dengan adanya Muhammad Al-Musthafa, sampaikanlah maksud-maksud kami, ampunilah dosa-dosa yang kami lakukan, wahai Tuhanku Yang Maha Luas Pemberiannya. Saat itu, Gus Dur dengan sejumlah rombongan dan santrinya berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro, Mojokerto, Jawa Timur. Sesampainya di makam salah seorang ulama tersohor di Nusantara ini, tetiba Gus Dur mencolek santrinya kepercayaannya untuk membaca bait Qasidah Burdah tersebut. Baca Maman Imanulhaq, Fatwa dan Canda Gus Dur, 2010 Lantunan Qasidah Burdah itu membuat ribuan jamaah juga larut di dalam syair sebagai bentuk ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad tersebut. Setiap syair tersebut dibaca, bibir Gus Dur ikut bergetar, wajahnya cerah berkaca-kaca dan tangannya ikut menepuk-nepuk paha pertanda Gus Dur larut dalam syair Al-Bushiri itu. Gus Dur menjelaskan bahwa Qasidah Burdah ini merupakan al-mada’ih an-nabawiyah yang dikembangkan para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan cinta yang mendalam. Qasidah ini terdiri dari 160 bait sajak, ditulis dengan gaya bahasa uslub yang menarik, lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, pujian terhadap Al-Qur’an, Isra’ Mi’raj, jihad, dan tawasul. Dari tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad yang sering diiringi Qasidah Burdah Al-Bushiri ini, Gus Dur mengambil simpul bahwa peringatan Maulid tidak hanya bersifat seremoni dan peringatan, tetapi juga aksi nyata sebagai upaya meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad. Menurut Gus Dur, jika tidak ada penerapan keteladan nyata, Maulid Nabi hanya akan menjadi ritual tahunan. Nubuwah membawa kabar gembira untuk melakukan perubahan di tingkat kehidupan nyata di berbagai level kehidupan masyarakat, terutama masyarakat akar rumput harus diterapkan dan dijalankan dalam kehidupan. Karena menurut Gus Dur, yang lebih penting dan utama dari peringatan adalah membangkitkan kembali semangat kenabian dalam melakukan upaya perubahan sosial agar seluruh umat Islam mampu melakukan perubahan yang diawali dari dirinya sendiri. Penulis adalah Redaktur NU Online Salah seorang kiai pesantren, pemimpin besar yang dikenal mempunyai keistimewaan ialah KH Abdurrahman Wahid Gus Dur. Bahkan, Gus Dur tak hanya dikenang lewat tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari berbagai kalangan dan agama. Diceritakan oleh KH Abdul Moqsith Ghazali 2018, Imam Al-Ghazali pernah berdoa kepada Allah. Dalam doanya, ia berharap kitab yang ditulisnya, Ihya’ Ulumiddin lebih terkenal dibanding kuburannya. Doa tersebut dikabulkan. Saat ini kitab tersebut dikaji di berbagai pesantren dan perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebaliknya, kuburan Al-Ghazali tidak banyak yang tahu. Bahkan menurut Kiai Moqsith yang pernah berkunjung ke makam Al-Ghazali, kuburan penulis Kitab Tahafutul Falasifah itu terlihat apa adanya karena baru dua tahun belakangan ditemukan. Artinya, selama ratusan tahun yang ramai diziarahi selama ini bukan makam Al-Ghazali. Salah seorang kiai pesantren yang dikenal mempunyai keistimewaan ialah KH Abdurrahman Wahid Gus Dur. Bahkan, Gus Dur tak hanya masyhur tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari berbagai kalangan dan agama. Kiai Moqsith yang juga dikenal dekat dengan Gus Dur saat masih hidup menuturkan, dahulu Gus Dur ditawari umur 90 tahun oleh malaikat. “Buat apa sih umur panjang-panjang, yang sedang sajalah 69 tahun. Akhirnya benar Gus Dur wafat pada usia tersebut,” ungkap Kiai Moqsith saat mengisi forum ilmiah tentang moderasi Islam di Bogor, Jawa Barat baru-baru ini. Kisah tersebut muncul ketika Kiai Moqsith juga menjelaskan riwayat salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Sa’ad bin Abi Waqash. Saat itu sahabat Sa’ad didatangi malaikat pada umur 42 tahun dan ingin mencabut nyawanya. Seketika sahabat Sa’ad protes kepada malaikat, karena anak-anaknya yang masih kecil. Akhirnya, sahabat Sa’ad berdoa meminta kepada Allah dan diberikan umur panjang. Dikabulkan oleh Allah, 84 tahun baru meninggal. Kuburan sahabat Sa'ad berada di Kota Guangzhou, Tiongkok China dan ramai diziarahi banyak orang dari mancanegara. Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Manungkusumo RSCM Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan setelah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur. Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantar jenazah putra sulung KH Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang. Tebuireng saat itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat manusia berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur. Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing. Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di batu nisannya tertulis, “Here rest a Humanist” itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur inspirasi bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang hingga sekarang terus ramai diziarahi. KH Husein Muhammad Cirebon dalam buku Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus 2015 mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki. Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang datang dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh. Gambaran singkat dari kepergian dua zahid manusia dengan maqom zuhud yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan. Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya. Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu tanamlah eksistensimu di bawah tanah yang tidak dikenal. Sesuatu yang tumbuh yang tak ditanam, akan berbuah segar. Editor Abdullah Alawi

kisah gus dur bertemu nabi khidir